Tuesday, January 16, 2007

eS eM eS

 

Morning, babe…

sender : 0813xxxxxxxx

delivery report : sent to 0812xxxxxxx, 06:45 wib

 

Morning. Where r u, hon?

replied by : 0812xxxxxxx

delivery report : sent to 0813xxxxxxxx, 06:47 wib

 

Udh di jln. Udh smp ktr?

sender : 0813xxxxxxxx

delivery report : sent to 0812xxxxxxx, 06:49 wib

 

Udh dong. Udh srpn? Mkn apa? Smlm kok ga jd sms?

replied by : 0812xxxxxxx

delivery report : sent to 0813xxxxxxxx, 06:52 wib

 

Ini sambil mkn roti. Sori, babe. Smlm ketdran. Abis bikin laporan smp jam 2, trs tdr. Lg apa? Udh sbk?

sender : 0813xxxxxxxx

delivery report : sent to 0812xxxxxxx, 06:55 wib

 

Gpp. Udh biasa. Blm.

replied by : 0812xxxxxxx

delivery report : sent to 0813xxxxxxxx, 06:59 wib

 

Ntar sore ktm ya. Aku kangen. Di tmp biasa, ya.

sender : 0813xxxxxxxx

delivery report : sent to 0812xxxxxxx, 07:02 wib

 

He eh. Aku jg. Km sbk trs.

replied by : 0812xxxxxxx

delivery report : sent to 0813xxxxxxxx, 07:04 wib

 

Smp ntar sore ya, aku jmpt. Pake baju tdr yg sxy, yg kt bl di sogo mg lalu, ya. Jgn lupa mnm pil.

sender : 0813xxxxxxxx

delivery report : sent to 0815xxxxxxx, 07:06 wib

 

Baju tdr yg mana? Pil apa, pa???

replied by : 0815xxxxxxx

delivery report : sent to 0813xxxxxxxx, 07:09 wib

 

888

 

kt-14.01.07

Posted by Krisdian at 00:03:17 | Permalink | No Comments »

Monday, January 15, 2007

Obrolan di Pinggir Kali

 

Dulu, setiap kali aku ditanya apa cita-citaku, aku selalu menjawab, “Aku mau jadi orang hebat.” Sampai suatu sore di pinggir kali belakang rumah, sambil asik memancing dengan bapak, kami berbincang hangat.

“Pak, selulus SD nanti, aku mau ke SMP favorit, SMA favorit, kuliah juga di perguruan tinggi yang keren. Ya, Pak?”

“Boleh. Emang cita-citamu apa, toh, Le?”, tanya Bapak sambil membetulkan tali di alat pancing.

“Mau jadi orang hebat, Pak.”

“Orang hebat yang bagaimana?”

“Pokoknya orang hebat, supaya ga dilecehkan orang. Pak, aku juga mau ikut les bela diri di sekolah, boleh?”.

“Selama kamu belajar rajin, pasti kamu bisa jadi orang pinter. Kalo kamu jadi orang pinter, kamu ndak akan dilecehkan orang. Lha, ikut belajar bela diri itu untuk apa, Le?”

“Supaya aku bisa jaga diri. Lha aku sering diganggu temen-temenku kok.”

Pikiranku melayang ke peristiwa minggu lalu. Ketika si Jono dan teman-temannya menghadangku di jalan sepulang sekolah. Dengan badan kecil kurus begini, manalah bisa aku melawan. Sedang mereka berbadan dua kali besar badanku. Uang jajanku yang sekiranya akan aku gunakan untuk menyewa komik pada Bang Jail lenyap sudah.

Pancinganku menegang, kemudian mengendur lagi. Pasti ikan yang barusan makan umpanku terlepas lagi. Aku menarik pancingku dan memasang umpan yang baru. Pancing ku buang sejauh mungkin, berharap ikan baru akan memakan umpanku.

“Jadi begitu kamu bisa bela diri, kamu mau berkelahi gitu?” bapak menatap dalam mataku.

“Ga, pak. Cuma bela diri aja.” Jawabku segera. “Boleh, pak?” bujukku lagi.

Bapak mengambil sebatang rokok yang ditaruh di atas batu. Ditariknya nikmat batang rokok itu kemudian dilepas pelan, asap membumbung ke atas membentuk liukan. Seperti penari yang menari dengan liukan pinggulnya yang indah. “Le, kalo kamu mau ikut bela diri tapi begitu bisa kamu sudah merasa hebat, bapak ndak bisa ngijinin. Kamu tau, kalo kamu berkelahi berarti kamu menyakiti orang lain.”

“Tapi aku kan bela diri, pak” sergahku.

“Iya, tapi kamu harus ingat, bukan untuk berkelahi.”

“Beres, pak.”

“Ada satu lagi syaratnya.”

“Apa, pak?” tanyaku ingin tahu.

“Kamu harus bisa mengobati orang lain dulu sebelum kamu menyakiti orang lain karena berkelahi, meskipun itu untuk bela diri. Itu juga berguna untuk kamu sendiri.”

Aku mengangguk mantap. “Beres, pak.”

“Mulai nanti malam, bapak akan ajari kamu mengobati kamu sendiri dan orang lain.”

Kulirik bapak tengah mengangkat pancingannya. Ikan besar kiranya. Bapak tersenyum senang, aku juga.

888

kt - 14.01.07 

Posted by Krisdian at 00:11:23 | Permalink | No Comments »

Thursday, January 11, 2007

Layang-layang

 

Pernah aku berjalan di atas atap rumah bapak. Saat itu masih sekitar jam 5 sore. Musim layang-layang. Banyak layangan berputar-putar di belahan langit, sebentar matahari tertutup, sebentar seperti mengintip antara kertas melayang. Kemudian tiba-tiba cahayanya melesak keluar menghantam mata ketika layang-layang meliuk indah ke sebelah sisinya. Layang-layang seperti mengejek aku yang hanya bisa berdiam di atas genteng, duduk diam berpeluk lutut, sambil memegang gulungan benang gelasan yang kubuat sendiri kemarin sore. Layang-layangku putus dihantam si raksasa belang hitam biru dari rt sebelah. Dengan pongahnya ia melayang di birunya langit, seakan mengejek semua layang-layang kecil di sekelilingnya. Sekarang aku hanya bisa menatap langit menghitung kertas terbang.

Uang jajanku habis untuk membeli benang, kertas minyak dan sagu untuk lemnya. Kemarin aku asik memasak sagu di atas panci kecil milik ibu. Kertas minyak pun sudah aku gunting mengikuti pola yang sudah aku gambar di atasnya. Buluh bambu yang kudapat dari teman sudah kurakit dan kutimbang dengan benar. Bening sudah warna saguku, lem kanji namanya sekarang. Bertransformasi sesuai keinginan. Aku membayangkan seandainya kulitku bisa bertransformasi, tak kan pernah kudengar lagi teman-teman memanggilku si Keling.

Aku sibuk menggunting kertas minyak warna merah darah. Warna keberanian, kata Bapak.  Niatku membuat ekor pada layang-layang urung kulakukan. Katanya hanya seorang pengecut saja yang mau memasang ekor pada layang-layangannya. Layang-layangku sudah siap terbang sekarang. Hm…betapa gagahnya.

Pecahan beling yang kudapat dari gelas yang retak di dapur ibu sudah pula aku haluskan di atas batu. Aku campur dengan sisa lem, pelan-pelan kuaduk. Kubalur pada benang yang terbentang antara pohon.

Aku berlari menuju tanah lapang dekat rumah. Bersama bapak, kuterbangkan layang-layang merahku. Gagah. Meliuk ke kanan, ke kiri. Memotong setiap layang-layang yang berani mendekat. Kuulur, tarik, ulur, tarik, hingga putus benang lawan. Layang-layang kuning mencoba memotong, kutarik keras. Tass!! Kertas kuning itu menukik pelan, lepas dari benangnya. Aku tersenyum senang. Penuh kemenangan. Tak terasa perih di telapak, warna merah membasahi gelasan hitam. Aku usap pelan pada kaos yang kupakai. Tak peduli membekas warna merah segar pada kaos putih pemberian ibu. Nanti sajalah kupikirkan bagaimana cara menjelaskan pada ibu. Sedang kemenangan sudah di tangan.

Aku makin menggila. Kuulur benang sampai melebihi tinggi layang-layang yang lain. Aku lah raja. Raja di belahan langit biru.

3 musuhku jatuh sudah. Putus oleh benang gelasanku yang ampuh. Aku tersenyum bangga. Tersenyum pada bapak. Kulihat wajah bapak yang bangga. Sampai benang yang kupegang terasa ringan, tak tertahan angin. Nanar kutatap layang-layang merah gagahku melayang pelan menuju tanah kemudian terbang dibawa angin. Sekelompok anak berlari mengejar. Aku hanya bisa menatap sedih. Hilang sudah kebanggaanku. Si merah gagah.

Sedang di atas sana layang-layang raksasa belang hitam biru dengan pongahnya seakan tertawa mengejek. “Aku lah raja langit.”

Aku terduduk lemas di pinggir lapangan. Bersama bapak yang kemudian menepuk pelan bahuku. Tersenyum menguatkan, sambil menunjuk pada warna langit yang sudah berubah menjadi jingga. Langit mulai menua. Waktunya pulang. Dengan kekalahan.

Tidak, kata bapak. Aku menang. Aku tersenyum senang.

 

kt - 11.01.07

Posted by Krisdian at 04:43:50 | Permalink | Comments (1) »

Tidur

 

Untuk beberapa orang, ketepatan dan lamanya waktu tidur itu sangat penting. Bahkan mempengaruhi aktifitasnya esok hari.

Salah seorang teman saya yang sudah cukup akrab, sangat patuh dengan lama waktu tidur yang diharuskan. Begitu juga dengan dalam atau tidaknya tidur yang dia jalani. Kedalaman tidur seseorang tergantung kurva gelombang betanya. Saya pernah sengaja datang ke dokter untuk merekam otak pada saat tertidur atau pun beristirahat.

Kembali ke teman saya, ukuran dia untuk kedalaman tidur adalah di mana dia bisa jatuh tertidur dan tidak terganggu suatu apapun, sampai pagi hari dan terbangun dengan tersenyum. Tempat tidur pun bisa menjadi pilihan yang rada rumit dan penting. Kecintaannya pada her own bed adalah yang paling utama. Soal gangguan, bisa dikategorikan dari suara, gerakan atau pun mimpi buruk. Suara dari handphone yang memberitahu ada sms masuk pun dapat membuat dia tidak dapat jatuh tertidur lagi. Alhasil keesokan harinya dan sepanjang hari itu moodnya langsung berubah 180 derajat, tidak dapat bekerja dengan baik atau pun tersenyum dengan tulus.

Bagi saya sendiri, tidur di manapun jadi lah. Yang penting dapat memejamkan mata sejenak. “Tempat tidur” saya sampai saat ini dalam satu hari berbeda-beda. Malam hari tentu lah di kamar di mana saya menghabiskan malam dengan putri bungsu saya, pagi hari di bis menuju pemberhentian pertama, kemudian di bis ke dua menuju kantor. Siang hari saat tiba-tiba kantuk menyerang, toilet kantor adalah sasaran utama saya. 5 menit cukuplah. Yang terpenting adalah bisa memejamkan mata sejenak. Melemaskan sebentar semua panca indra, tubuh, kemudian kembali beraktifitas.

Beda dengan kejadian di bis, itu saya lakukan karena saya benar-benar menghargai waktu. Dengan waktu tidur malam yang kadang cuma 4-5 jam semalam, membuat saya menghargai waktu perjalanan dari rumah ke kantor, dan sebaliknya yang masing-masing kurang lebih 1 jam, dengan memejamkan mata. Tapi bagusnya alarm biologis saya sudah terlatih. Bila kurang dari 1 jam perjalanan pun saya masih bisa membuka mata tepat beberapa meter sebelum saya turun. Pernah sih agak ke depan dikit. Tapi saya anggap itu bonus perjalanan lah. Toh tidak parah-parah sekali jauhnya.

Pada saat tertentu saya malah merindukan nyenyak. Satu kata yang sangat saya hargai. Betapa tidak. Tiap kali kita mendapatkan nyenyak, kesegaran yang kita dapat di pagi hari sangat berbeda. Nikmat sekali. Kenapa saya sangat menghargai? Karena ada saat tertentu nyenyak benar-benar memusuhi saya. Tidak tanggung-tanggung, bisa 3 malam berturut-turut. Akibatnya, di hari ketiga saya seperti berjalan mengambang. Barulah pada malam ke tiga saya bisa jatuh tertidur. Dan nyenyak. Waktu sebenarnya relatif, tergantung sebanyak apa beban yang ada di pikiran.

***

kt - 10.01.07

Posted by Krisdian at 01:30:20 | Permalink | No Comments »

Nama

 

Apalah arti sebuah nama. Itu kata Shakespeare. Tapi tetap saja nama itu sangat berarti baik bagi yang menyandangnya maupun yang memberikannya. Bahkan adalah suatu kebanggaan bila nama seseorang berarti sangat baik, keren, mengikuti trend dan tidak malu-maluin.

Kok bisa malu-maluin? Sebenarnya nama yang diberikan orang tua kita pasti bermakna yang baik. Seperti semua orang tua di belahan dunia manapun, pasti punya harapan besar pada anaknya. Begitu juga dengan nama yang diberikan acap kali sangat berarti. Seperti nama salah seorang kenalan, Maymunah. Bagus dong, yang diambil dari deretan panjang nama wanita muslimah. Tapi dasar anaknya sendiri waktu kecil lebih senang menyebut dirinya dengan panggilan “Mumun”, mungkin sesuai dengan lidah cedalnya, alhasil lingkungan di sekitarnya pun ikutan. Termasuk kedua orang tuanya. Enak juga panggilan itu di lidah, singkat dan mudah diucapkan. Tapi begitu si anak beranjak dewasa dan mulai bergaul dengan orang kebanyakan, mulailah dia malu menyandang nama panggilannya. Alih-alih nama panggilan pun berganti menjadi “May”, diambil dari suku kata pertama namanya. Kemudian berganti lagi dengan “Maya”. Begitulah yang dia proklamirkan kepada kami. Terbiasa dengan nama itu, tapi lupa menularkan ke seantero rumah. Hingga suatu hari ada seorang teman menelpon ke rumahnya untuk berbicara dengan si “Maya”. Akibatnya berhasil bicara pun tidak, malah mendapat jawaban, “Maaf de, di sini kagak ada tuh nyang namanya Maya”.

Bagi saya, nama memang berarti sekali. Tapi salah satu kelemahan saya adalah kesulitan dalam menghafalkan deretan nama-nama, termasuk nama-nama artis. Walah, kalau sudah menyangkut gossip-gosip artis atau selebritis lainnya, saya termasuk yang sering bertanya, “Si anu yang main di film apa, ya?”

Kesulitan menghafal nama itulah yang membuat saya menyiasati dengan sering-sering menyebut nama dari orang yang baru saya kenal. Terlalu banyak nama yang digunakan orang juga membuat saya agak bingung. Ahmad anu, Budi anu, Agus anu, Bambang anu, Sri anu. Bahkan pernah saya temui multi Agus di salah satu tempat saya bekerja. Tidak tanggung-tanggung, 5 Agus dalam satu divisi di mana saya bergabung. Tapi lebih kesulitan lagi kalau namanya adalah Ahmad Budi Agus Setiawan, mau dimasukkan dalam kategori yang mana?

Salah menghafal nama orang juga pernah terjadi. Kejadiannya waktu saya baru masuk kelas 1 SMA. Berkenalan lah saya dengan teman dari teman saya. Keturunan Arab, agak kurang jelas kalau berbicara. Karena sering kami berjalan pulang ramai-ramai, sering jugalah saya berbincang dengannya. Suatu hari seperti biasa rombongan kami berjalan kaki pulang sekolah. Karena telat keluar kelas, saya agak berlari menyusul. Niat memanggil namanya. Sialnya, namanya saya lupa. Seingat saya namanya berbau Arab, dengan konsonan L, F dan T. Aha…mungkin Latif. Dengan semangat saya panggil namanya, “Tif!!!” Tapi teman saya itu terus saja berjalan sambil berbincang dengan teman yang lainnya. Setengah terengah saya berjalan bersisian dengannya dan bertanya kenapa tidak menyahut. Dia bilang, “Sori, gue ga denger.” Sampai di sini saya masih yakin 100% namanya Latif. Tapi terhenyak begitu salah satu teman saya menyusul kami dan berkata, “Lutfi, lu dipanggil sama kepala sekolah tuh!” Lho????

 

***

 

kt - 10.01.07 - 21:07

Posted by Krisdian at 01:15:25 | Permalink | No Comments »