Tidur
Untuk beberapa orang, ketepatan dan lamanya waktu tidur itu sangat penting. Bahkan mempengaruhi aktifitasnya esok hari.
Salah seorang teman saya yang sudah cukup akrab, sangat patuh dengan lama waktu tidur yang diharuskan. Begitu juga dengan dalam atau tidaknya tidur yang dia jalani. Kedalaman tidur seseorang tergantung kurva gelombang betanya. Saya pernah sengaja datang ke dokter untuk merekam otak pada saat tertidur atau pun beristirahat.
Kembali ke teman saya, ukuran dia untuk kedalaman tidur adalah di mana dia bisa jatuh tertidur dan tidak terganggu suatu apapun, sampai pagi hari dan terbangun dengan tersenyum. Tempat tidur pun bisa menjadi pilihan yang rada rumit dan penting. Kecintaannya pada her own bed adalah yang paling utama. Soal gangguan, bisa dikategorikan dari suara, gerakan atau pun mimpi buruk. Suara dari handphone yang memberitahu ada sms masuk pun dapat membuat dia tidak dapat jatuh tertidur lagi. Alhasil keesokan harinya dan sepanjang hari itu moodnya langsung berubah 180 derajat, tidak dapat bekerja dengan baik atau pun tersenyum dengan tulus.
Bagi saya sendiri, tidur di manapun jadi lah. Yang penting dapat memejamkan mata sejenak. “Tempat tidur” saya sampai saat ini dalam satu hari berbeda-beda. Malam hari tentu lah di kamar di mana saya menghabiskan malam dengan putri bungsu saya, pagi hari di bis menuju pemberhentian pertama, kemudian di bis ke dua menuju kantor. Siang hari saat tiba-tiba kantuk menyerang, toilet kantor adalah sasaran utama saya. 5 menit cukuplah. Yang terpenting adalah bisa memejamkan mata sejenak. Melemaskan sebentar semua panca indra, tubuh, kemudian kembali beraktifitas.
Beda dengan kejadian di bis, itu saya lakukan karena saya benar-benar menghargai waktu. Dengan waktu tidur malam yang kadang cuma 4-5 jam semalam, membuat saya menghargai waktu perjalanan dari rumah ke kantor, dan sebaliknya yang masing-masing kurang lebih 1 jam, dengan memejamkan mata. Tapi bagusnya alarm biologis saya sudah terlatih. Bila kurang dari 1 jam perjalanan pun saya masih bisa membuka mata tepat beberapa meter sebelum saya turun. Pernah sih agak ke depan dikit. Tapi saya anggap itu bonus perjalanan lah. Toh tidak parah-parah sekali jauhnya.
Pada saat tertentu saya malah merindukan nyenyak. Satu kata yang sangat saya hargai. Betapa tidak. Tiap kali kita mendapatkan nyenyak, kesegaran yang kita dapat di pagi hari sangat berbeda. Nikmat sekali. Kenapa saya sangat menghargai? Karena ada saat tertentu nyenyak benar-benar memusuhi saya. Tidak tanggung-tanggung, bisa 3 malam berturut-turut. Akibatnya, di hari ketiga saya seperti berjalan mengambang. Barulah pada malam ke tiga saya bisa jatuh tertidur. Dan nyenyak. Waktu sebenarnya relatif, tergantung sebanyak apa beban yang ada di pikiran.
***
kt - 10.01.07