Dulu, setiap kali aku ditanya apa cita-citaku, aku selalu menjawab, “Aku mau jadi orang hebat.” Sampai suatu sore di pinggir kali belakang rumah, sambil asik memancing dengan bapak, kami berbincang hangat.
“Pak, selulus SD nanti, aku mau ke SMP favorit, SMA favorit, kuliah juga di perguruan tinggi yang keren. Ya, Pak?”
“Boleh. Emang cita-citamu apa, toh, Le?”, tanya Bapak sambil membetulkan tali di alat pancing.
“Mau jadi orang hebat, Pak.”
“Orang hebat yang bagaimana?”
“Pokoknya orang hebat, supaya ga dilecehkan orang. Pak, aku juga mau ikut les bela diri di sekolah, boleh?”.
“Selama kamu belajar rajin, pasti kamu bisa jadi orang pinter. Kalo kamu jadi orang pinter, kamu ndak akan dilecehkan orang. Lha, ikut belajar bela diri itu untuk apa, Le?”
“Supaya aku bisa jaga diri. Lha aku sering diganggu temen-temenku kok.”
Pikiranku melayang ke peristiwa minggu lalu. Ketika si Jono dan teman-temannya menghadangku di jalan sepulang sekolah. Dengan badan kecil kurus begini, manalah bisa aku melawan. Sedang mereka berbadan dua kali besar badanku. Uang jajanku yang sekiranya akan aku gunakan untuk menyewa komik pada Bang Jail lenyap sudah.
Pancinganku menegang, kemudian mengendur lagi. Pasti ikan yang barusan makan umpanku terlepas lagi. Aku menarik pancingku dan memasang umpan yang baru. Pancing ku buang sejauh mungkin, berharap ikan baru akan memakan umpanku.
“Jadi begitu kamu bisa bela diri, kamu mau berkelahi gitu?” bapak menatap dalam mataku.
“Ga, pak. Cuma bela diri aja.” Jawabku segera. “Boleh, pak?” bujukku lagi.
Bapak mengambil sebatang rokok yang ditaruh di atas batu. Ditariknya nikmat batang rokok itu kemudian dilepas pelan, asap membumbung ke atas membentuk liukan. Seperti penari yang menari dengan liukan pinggulnya yang indah. “Le, kalo kamu mau ikut bela diri tapi begitu bisa kamu sudah merasa hebat, bapak ndak bisa ngijinin. Kamu tau, kalo kamu berkelahi berarti kamu menyakiti orang lain.”
“Tapi aku kan bela diri, pak” sergahku.
“Iya, tapi kamu harus ingat, bukan untuk berkelahi.”
“Beres, pak.”
“Ada satu lagi syaratnya.”
“Apa, pak?” tanyaku ingin tahu.
“Kamu harus bisa mengobati orang lain dulu sebelum kamu menyakiti orang lain karena berkelahi, meskipun itu untuk bela diri. Itu juga berguna untuk kamu sendiri.”
Aku mengangguk mantap. “Beres, pak.”
“Mulai nanti malam, bapak akan ajari kamu mengobati kamu sendiri dan orang lain.”
Kulirik bapak tengah mengangkat pancingannya. Ikan besar kiranya. Bapak tersenyum senang, aku juga.
888
kt - 14.01.07