JANITRA
Tangannya mempermainkan sebuah tabung kecil yang berisi butiran tablet berwarna merah muda.
“Kau menolaknya, sayang?”
Matanya menelaga. Anggukannya tipis hampir tak terlihat. Suara yang keluar hanya lenguhan. Pikirannya kalut. Satu tangannya sibuk menghapus air mata yang mulai menganak sungai di pipi, sesekali menghapus ingus yang menetes dari hidungnya yang bangir. Satu tangannya yang lain mengelus lembut perutnya yang tipis. Hampir diremasnya karena terdesak. Tapi gerakan tangannya kaku tiba-tiba, teringat satu nyawa mulai ada.
“Sayang”, suara rendah dan berat lelaki itu mulai memanggilnya lagi. Ditaruhnya tangannya yang kekar pada bahu yang menurun. Dirasanya hangat. Ada isak di sana. Tak mampu melanjutkan kalimat bahkan juga pada rengkuhan. Di hadapannya bukan lagi wanita tegar yang pernah ia kenal. Tetapi sesosok wanita rapuh dengan wajah pucat yang tidak cukup hanya dengan pelukan untuk membangkitkannya lagi.
Kita berada di persimpangan jalan.
* * *
JINGGA
Mereka memanggilku Jingga. Nama pemberian almarhum bapakku. Karena aku dilahirkan saat langit menjingga. Senja mulai meluruh. Cuma itu? Iya. Karena sepanjang apapun namamu, cukup satu kata untuk memanggilmu. Itu menurut bapak. Rambutku hitam panjang luruh ke punggung. Tak berteman dengan jepit rambut atau sekedar karet gelang. Ibuku yang meminta untuk membiarkannya lepas. Bagai mayang terurai. Wanita lebih terlihat cantik dengan mahkota alami. Itu menurut ibu.
Mengenalmu dari rangkaian aksara tersusun rapi di satu blog dunia maya tempat di mana indahnya berselancar tanpa takut terjerambab. Terkoneksi rapi begitu kata sapa diterima. Bertukar ID sehingga tak ada kekosongan waktu di antara. Hingga ada satu perasaan yang tak dapat terhambat oleh tingginya load pekerjaan atau tuntutan rutinitas.
Mulai mencintaimu bukan karena genggaman tanganmu atau rengkuhan pelukanmu. Tapi dari rangkaian aksara tersusun rapi di tiap pesan yang sampai. Atau barisan puisi yang terhampar di blog hampir setiap hari berganti. Kecupan puisi sebelum tidur. Dan ucapan selamat malam yang berupa kiriman voice recorded yang tersimpan rapi di external HD. Diputar dan diputar kembali di tiap-tiap waktu saat hatiku terpagut rindu.
Mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku. Hingga tak ada satu inci pun tersisa dari tubuh ini yang tak terjamah tanganmu yang kokoh. Merekatkan jiwamu padaku. Jiwa yang menjanjikan kebebasan. Jiwa yang melekat satu sama lain bagaikan terikat pada akar yang menghunjam ke bumi. Tak ada saat berpisah. Tak ada koneksi terputus walau sekejap.
Mencintaimu adalah candu.
* * *
ARYA
Arya Wicaksana namaku. Begitu yang tertera di akta kelahiran. Tanpa nama lelaki yang seharusnya tercantum di bagian yang mereka sebut “ayah”. Hanya ada nama perempuan sebagai ibu dari si jabang bayi. Tidak pernah kutemui jawaban pasti mengapa hanya ada satu nama di akta itu. Hanya waktu yang menjawab. Karena memang tak seorangpun yang tahu nama siapa yang seharusnya tercantum di situ.
Mengenalmu seperti mereguk air dari telaga terjernih di muka bumi ini. Mengenalmu seperti mendapatkan puzle yang terlepas di masa lalu. Mengenalmu adalah keindahan. Karena kau adalah keindahan itu sendiri.
Mencintaimu adalah setelahnya. Mencintaimu yang entah akan lekang. Jiwaku menawarkan keniscayaan. Jiwaku terlepas bebas dari kungkungan. Sambutan tanganmu adalah kebahagiaan. Sandaranmu di bahuku adalah ketenangan. Kecupan sekilasmu adalah penawar lelah.
Jadikan aku candumu.
* * *
MEREKA
Langit memerah saat senja kembali luruh. Angin sore seakan terperangkap dalam pusaran waktu. Udara mengering. Cuaca tak bersahabat. Deru ombak seakan senyap. Jingga duduk di salah satu bangku di tepian dermaga. Tangannya sibuk mengetik puluhan aksara pada keypad smart phone yang hampir tak pernah lepas dari genggaman. Sesaat terdiam. Kemudian menatap layarnya tanpa suara. Jemarinya kembali bergerak cepat secara otomatis begitu LED berkedip. Pesan masuk.
“Tak mampu kutahan deru rindu yang membuncah. Tunggu aku di sana, Jinggaku”.
Ia tersenyum, kemudian sibuk menarikan jemarinya.
“Aku masih di sini. Menanti bukan tanpa kepastian. Senja mulai meluruh. Bahkan deru ombak tak mampu membuatku beranjak pergi. Terpatri dalam penantian.”
ENTER.
Senyap.
Jingga tergugu dalam diam.
Arya menatapnya lekat. Mencoba kembara dalam jejak yang liat dan sulit untuk diharfiahkan.
“Menerimaku kah, engkau?”
Jingga mengangguk pelan. “Karena kumencintaimu”.
Arya tersenyum. Genggaman pada tangan pucat dan dingin itu menguat. Ada kilatan pada matanya yang nyaris tak terlihat. “Jadikan aku candumu”. Bisiknya pelan di telinga Jingga.
Jiwa mereka mulai membaur.
Irama ombak menepuk pantai mulai terdengar. Berirama dengan tempo yang sama. Burung camar mulai memekik memecah hening langit. Memagut satu dari berjuta ikan yang ikhlas mengikatkan diri pada takdirnya.
Mereka bertemu dalam ikatan takdir. Bergerak dalam satu irama nafas. Jiwa mereka terikat. Menghunjam ke dalam bumi. Langit menggigil. Angin menderu. Air mata langit luruh satu- satu kemudian berjuta. Bumi menggigil.
* * *
JANITRA
Aku ada.
* * *
MEREKA
Tak mampu melawan takdir. Bahunya mulai turun naik. Tangisnya pecah. Arya mencoba menahannya dengan pelukan. Jingga menolak pelan.
“Aku tak bisa, Arya. Aku mengasihinya. Haruskah?” tangannya kembali mengelus perutnya.
“Kita tak punya pilihan. Aku tak punya pilihan. Ambillah”. Arya menyodorkan butiran tablet berwarna merah muda itu lagi.
Jingga terisak. “Tidak, Arya. Pergilah bila itu bukan pilihan. Bila itu takdirmu”.
ARYA
Maafkan aku, Jingga. Hanya ini yang kubisa lakukan. Tak lebih. Aku tak pergi, hanya bergeser pada jalinan ikatan yang memang telah lebih dulu ada. Maafkan aku, Jingga.
JINGGA
Namaku Jingga. Ada saat langit berwarna jingga. Pergi dalam diam. Saat langit mulai menghitam. Maaf tak kupilih satu dari puluhan tablet yang kau tawarkan dulu, Arya. Mencintaimu adalah candu. Candu yang merusak bukan hanya jaringan otakku tapi juga jiwaku.
Tak kan lagi kau temui air mataku yang melaksa. Tak kan lagi kau temui wajah beku menanti usapan lembut jemarimu. Tak kan lagi kau dengar keluhan dan rengekanku, Arya. Aku yang memilih pergi karena kau tak pernah beranjak.
Aku hanya ingin kau tahu dan mengenalnya. Namanya Janitra. Kuingin ia berderajat tinggi sesuai doa yang kusisipkan pada namanya.
JANITRA
Aku ada karena kasihmu. Aku ada karena cintamu. Aku ada karena pertukaran jiwamu pada jiwaku.

* * *
Pamulang, 13 Desember 2011

