Wednesday, December 14, 2011

JANITRA

Tangannya mempermainkan sebuah tabung kecil yang berisi butiran tablet berwarna merah muda.
“Kau menolaknya, sayang?”

Matanya menelaga. Anggukannya tipis hampir tak terlihat. Suara yang keluar hanya lenguhan. Pikirannya kalut. Satu tangannya sibuk menghapus air mata yang mulai menganak sungai di pipi, sesekali menghapus ingus yang menetes dari hidungnya yang bangir. Satu tangannya yang lain mengelus lembut perutnya yang tipis. Hampir diremasnya karena terdesak. Tapi gerakan tangannya kaku tiba-tiba, teringat satu nyawa mulai ada.

“Sayang”, suara rendah dan berat lelaki itu mulai memanggilnya lagi. Ditaruhnya tangannya yang kekar pada bahu yang menurun. Dirasanya hangat. Ada isak di sana. Tak mampu melanjutkan kalimat bahkan juga pada rengkuhan. Di hadapannya bukan lagi wanita tegar yang pernah ia kenal. Tetapi sesosok wanita rapuh dengan wajah pucat yang tidak cukup hanya dengan pelukan untuk membangkitkannya lagi.

Kita berada di persimpangan jalan.

* * *

JINGGA

Mereka memanggilku Jingga. Nama pemberian almarhum bapakku. Karena aku dilahirkan saat langit menjingga. Senja mulai meluruh. Cuma itu? Iya. Karena sepanjang apapun namamu, cukup satu kata untuk memanggilmu. Itu menurut bapak. Rambutku hitam panjang luruh ke punggung. Tak berteman dengan jepit rambut atau sekedar karet gelang. Ibuku yang meminta untuk membiarkannya lepas. Bagai mayang terurai. Wanita lebih terlihat cantik dengan mahkota alami. Itu menurut ibu.

Mengenalmu dari rangkaian aksara tersusun rapi di satu blog dunia maya tempat di mana indahnya berselancar tanpa takut terjerambab. Terkoneksi rapi begitu kata sapa diterima. Bertukar ID sehingga tak ada kekosongan waktu di antara. Hingga ada satu perasaan yang tak dapat terhambat oleh tingginya load pekerjaan atau tuntutan rutinitas.

Mulai mencintaimu bukan karena genggaman tanganmu atau rengkuhan pelukanmu. Tapi dari rangkaian aksara tersusun rapi di tiap pesan yang sampai. Atau barisan puisi yang terhampar di blog hampir setiap hari berganti. Kecupan puisi sebelum tidur. Dan ucapan selamat malam yang berupa kiriman voice recorded yang tersimpan rapi di external HD. Diputar dan diputar kembali di tiap-tiap waktu saat hatiku terpagut rindu.

Mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku. Hingga tak ada satu inci pun tersisa dari tubuh ini yang tak terjamah tanganmu yang kokoh. Merekatkan jiwamu padaku. Jiwa yang menjanjikan kebebasan. Jiwa yang melekat satu sama lain bagaikan terikat pada akar yang menghunjam ke bumi. Tak ada saat berpisah. Tak ada koneksi terputus walau sekejap.

Mencintaimu adalah candu.

* * *

ARYA

Arya Wicaksana namaku. Begitu yang tertera di akta kelahiran. Tanpa nama lelaki yang seharusnya tercantum di bagian yang mereka sebut “ayah”. Hanya ada nama perempuan sebagai ibu dari si jabang bayi. Tidak pernah kutemui jawaban pasti mengapa hanya ada satu nama di akta itu. Hanya waktu yang menjawab. Karena memang tak seorangpun yang tahu nama siapa yang seharusnya tercantum di situ.

Mengenalmu seperti mereguk air dari telaga terjernih di muka bumi ini. Mengenalmu seperti mendapatkan puzle yang terlepas di masa lalu. Mengenalmu adalah keindahan. Karena kau adalah keindahan itu sendiri.

Mencintaimu adalah setelahnya. Mencintaimu yang entah akan lekang. Jiwaku menawarkan keniscayaan. Jiwaku terlepas bebas dari kungkungan. Sambutan tanganmu adalah kebahagiaan. Sandaranmu di bahuku adalah ketenangan. Kecupan sekilasmu adalah penawar lelah.

Jadikan aku candumu.

* * *

MEREKA

Langit memerah saat senja kembali luruh. Angin sore seakan terperangkap dalam pusaran waktu. Udara mengering. Cuaca tak bersahabat. Deru ombak seakan senyap. Jingga duduk di salah satu bangku di tepian dermaga. Tangannya sibuk mengetik puluhan aksara pada keypad smart phone yang hampir tak pernah lepas dari genggaman. Sesaat terdiam. Kemudian menatap layarnya tanpa suara. Jemarinya kembali bergerak cepat secara otomatis begitu LED berkedip. Pesan masuk.

“Tak mampu kutahan deru rindu yang membuncah. Tunggu aku di sana, Jinggaku”.

Ia tersenyum, kemudian sibuk menarikan jemarinya.
“Aku masih di sini. Menanti bukan tanpa kepastian. Senja mulai meluruh. Bahkan deru ombak tak mampu membuatku beranjak pergi. Terpatri dalam penantian.”
ENTER.

Senyap.

Jingga tergugu dalam diam.
Arya menatapnya lekat. Mencoba kembara dalam jejak yang liat dan sulit untuk diharfiahkan.
“Menerimaku kah, engkau?”
Jingga mengangguk pelan. “Karena kumencintaimu”.
Arya tersenyum. Genggaman pada tangan pucat dan dingin itu menguat. Ada kilatan pada matanya yang nyaris tak terlihat. “Jadikan aku candumu”. Bisiknya pelan di telinga Jingga.
Jiwa mereka mulai membaur.

Irama ombak menepuk pantai mulai terdengar. Berirama dengan tempo yang sama. Burung camar mulai memekik memecah hening langit. Memagut satu dari berjuta ikan yang ikhlas mengikatkan diri pada takdirnya.

Mereka bertemu dalam ikatan takdir. Bergerak dalam satu irama nafas. Jiwa mereka terikat. Menghunjam ke dalam bumi. Langit menggigil. Angin menderu. Air mata langit luruh satu- satu kemudian berjuta. Bumi menggigil.

* * *

JANITRA

Aku ada.

* * *

MEREKA

Tak mampu melawan takdir. Bahunya mulai turun naik. Tangisnya pecah. Arya mencoba menahannya dengan pelukan. Jingga menolak pelan.
“Aku tak bisa, Arya. Aku mengasihinya. Haruskah?” tangannya kembali mengelus perutnya.
“Kita tak punya pilihan. Aku tak punya pilihan. Ambillah”. Arya menyodorkan butiran tablet berwarna merah muda itu lagi.
Jingga terisak. “Tidak, Arya. Pergilah bila itu bukan pilihan. Bila itu takdirmu”.

ARYA

Maafkan aku, Jingga. Hanya ini yang kubisa lakukan. Tak lebih. Aku tak pergi, hanya bergeser pada jalinan ikatan yang memang telah lebih dulu ada. Maafkan aku, Jingga.

JINGGA

Namaku Jingga. Ada saat langit berwarna jingga. Pergi dalam diam. Saat langit mulai menghitam. Maaf tak kupilih satu dari puluhan tablet yang kau tawarkan dulu, Arya. Mencintaimu adalah candu. Candu yang merusak bukan hanya jaringan otakku tapi juga jiwaku.

Tak kan lagi kau temui air mataku yang melaksa. Tak kan lagi kau temui wajah beku menanti usapan lembut jemarimu. Tak kan lagi kau dengar keluhan dan rengekanku, Arya. Aku yang memilih pergi karena kau tak pernah beranjak.

Aku hanya ingin kau tahu dan mengenalnya. Namanya Janitra. Kuingin ia berderajat tinggi sesuai doa yang kusisipkan pada namanya.

JANITRA

Aku ada karena kasihmu. Aku ada karena cintamu. Aku ada karena pertukaran jiwamu pada jiwaku.

* * *
Pamulang, 13 Desember 2011

Posted by Krisdian in 12:54:17 | Permalink | No Comments »

Sunday, December 11, 2011

Namaku Maharani, panggil aku Rani

Namaku Maharani, panggil aku Rani.
Yang memiliki pandangan bahwa kebahagiaan itu tak pernah didapat dalam sekejap. Bahwa semua awal adalah perjuangan. Bahwa tidak semua perjuangan berakhir di titik kebahagiaan. Bahwa kebahagiaan tidak dapat hanya dipandang sebelah sisi. Bahwa tidak dari semua sisi dapat terlihat kebahagiaan.

Namaku Maharani, panggil aku Rani.
Yang baru mengenal cinta di awal tiga puluh. Mengharap di ujungnya terdapat kebahagiaan. Mengharap keniscayaan yang terhampar adalah bukan sesuatu yang semu. Tetapi cinta yang memiliki sayap. Sayap yang dapat membawanya terbang ke ujung dunia yang bernama kebahagiaan.

Namaku Maharani, panggil aku Rani.
Mencari, bukan lagi dicari. Menunggu, bukan lagi ditunggu. Menulis satu kisah, bukan lagi seribu. Menangis, bukan lagi terisak. Mengumpulkan satu persatu aksara tercecer. Menjejalkan rangkaian debu perjalanan dalam satu pundi. Mencoba menghapus air mata sebanyak hitungan bintang di langit.

Namaku Maharani, panggil aku Rani.
Membuka tabir masa lalu dengan enggan hati. Menyambut cinta yang menawarkan keniscayaan. Memasang pasak di antara puing hati yang terserak. Menutup mata ketika jemari tergenggam. Menyisakan tangisan di setiap malam berakhir. Mencoba hilangkan nyeri saat hati terpagut rindu.
Membiarkan diri saat rasa purba meraja. Mengindahkan rasa saat berkata “aku tak apa-apa” bahkan saat air mata menelaga dan irisan tipis mulai ada.

Namanya Maharani, tak usah panggil dia Rani.
Menutup mata di awal empat puluh. Membawa luka dalam kenang. Membawa cinta yang pernah terngiang. Tak ada lagi aksara tersusun. Tak ada lagi kisah terpatri. Tak ada yang abadi.

:: ada goresan di pergelangan tangannya, tertulis “aku tak apa-apa”.

Pamulang, 11 Desember 2011

Posted by Krisdian in 06:06:22 | Permalink | No Comments »

Wednesday, December 7, 2011

Terkoneksi, haruskah?

: pp

Di era yang serba digital ini ku mengenalmu. Dari sebaris kata, sejenak pertukaran suara hingga cinta yang tak lagi samar.
Di era ini pula tak ada yang serba tak mungkin hingga di manapun kita berada kita terkoneksi seakan kau berada di sampingku, ‘memelukku’ bahkan ‘mencium’ sekilas dengan emotion icon yang terkirim di saat yang sama kau katakan.
Hingga tak terasa kita bergantung padanya.
Bergantung pada batere, pada kedip LED, pada dering atau vibrasi.
Tak ada kata lepas saat pesan tak terkirim.
Resah saat tanda merah menyala, batere lemah atau gedung tak terlengkapi transmitter.
Hingga mata tak mampu lepas dari layar handphone walau tak ada pesan datang atau dering memanggil. Marah saat provider bermain-main dengan sinyal tak terkirim bahkan menuduh semesta tak berpihak.

Kini kembali kubertanya, jatuh cintakah kau pada tehnologi ataukah denganku?

Karena tanpa tehnologi kau merasa kehilangan diriku.
Karena tanpa dering telepon, pesan terkirim atau sebaris kata di social network kita merasa jauh.
Karena tanpa itu semua kau rasa risau.

Bukankah kita masih bisa bertukar cerita saat bertemu?
Bukankah kita masih bisa berpelukan manja saat bersama?
Bukankah ciuman sekilasku yang kau tunggu?
Bukankah kecupan kau di keningku yang seharusnya nyata?

Sekali lagi kubertanya, cinta nyatakah ini?

:: kutatap handphone dengan LED yang berkedip, pesanmu masuk.

Pamulang, 4 Desember 2011

Posted by Krisdian in 04:31:57 | Permalink | No Comments »

Saturday, December 3, 2011

Bukan Cinta Sekedar Cuma

Ketika diam bukan lagi sekedar cuma. Ketika perasaan di dalam ini bukan sekedar tercabik.
Memang hanya diam yang tersisa.
Karena waktu yang telah menyibak cerita.
Ini bukan sekedar cinta.
Bukan pula cinta yang hanya sekedar.
Walau cinta ini biasa saja.
Kita tau, cinta saja tidaklah cukup.

Sudirman, 22.11.12

Posted by Krisdian in 13:54:37 | Permalink | No Comments »

Tuesday, November 22, 2011

Cerita yang pernah kau beri

Pernah kau bercerita tentang nyanyian di pinggir sungai yang mengering
Tentang ilalang yang tumbuh di padang gersang
Atau tentang dedaunan yang luruh satu-satu
Dari pohon yang merindangi halaman rumahmu

Kini lagi-lagi kau bercerita
Tanpa kau tau,
aku tengah bernyanyi tanpa suara di balik bukit,
Di antara pohon cemara,
yang dulu pernah kita singgahi

22 November 2011

Posted by Krisdian in 13:02:31 | Permalink | Comments Off

Percayalah Pada Takdir

Ada sekelumit cerita di sudut hati, saat tak ada lagi sisa embun di garis fajar. Terang tanah. Sebentar sebelum senja turun.
“Haruskah kita percaya pada garis tangan?” tanyaku masygul.
‘Percayalah pada takdir, bisik sang waktu’
“Aku ingin bersamamu sebelum senja luruh”, katanya sambil membetulkan letak hijabku.

Posted by Krisdian in 05:28:43 | Permalink | Comments Off

Langkah Kaki Kita

Katakanlah Maria,
“tak kan mampu kuhentikan laju angin,
biarkan hapus jejak kita.
langkah kaki kan terus ada.
karena hidup bukan MELULU tentang KAMU …”

7 November 2011

Posted by Krisdian in 05:26:17 | Permalink | Comments Off

Maaf

Maaf bila tak kan kau temui jejak tapakmu semalam,
Bahkan tak kan kau temui secuil pun rindu untukmu.
Bukan karena diamku, ku mencoba melawan takdir. Bukan karena tundukku, ku menanti jawabmu.
Tapi lebih pada keinginan untuk kau tau, ini bukan kisah lalu.

Kita tidak sedang berada di kekosongan waktu.

08.11.11

:: M and her secret lover ::

Posted by Krisdian in 05:22:10 | Permalink | Comments Off

Hari yang Biasa Itu

: Papah

Ada ketakutan pada nada bicaraku saat terlontar tanya apakah ini akan berlangsung lama,
Sebatas apa lagi toleransi yang bisa kuberikan?
Ini bukan lagi tentang kau dan aku. Tapi tentang kita dan mereka.

Dan kita hanya bisa berdiri menatap langit, meresapi cahayanya . Tanpa keluh menampung semua tanya yang kita tau pasti entah kapan dapat menjawab.
Kubetulkan letak leher kemejamu saat kau teguk kopi hitam dari gelas yang kuberikan.
Akan kah saat itu terulang sampai waktunya tiba? Karena siang mulai memudar.

Senyummu tipis. ‘Tak kan pernah kulepas engkau walau senja meluruh’, jawabmu lekat.

Tapi tak pernahkah kau tau tentang matahari yang makin menggulir ke barat, tentang angin yang mulai enggan bertiup, tentang bintang yang mulai kehilangan cahayanya?

Anggukanmu tipis.

:: Kuaduk lagi kopi hitam untukmu. Kali ini dengan sedikit susu. Walau kutau pasti, tanpa ini pun kau akan tetap menetap.

21 November 2011

Posted by Krisdian in 05:10:27 | Permalink | Comments Off

Thursday, November 3, 2011

PS : I love you

You told me once, whenever you miss me in the night, just look at the sky. You will find many stars there. Pick one and name it. If there’s no stars, there’s still the same sky where we are under.

Whenever you miss me in the day, just look at the bright sky. You can’t reach the sky, but you can see as far as you can. This is the way we are looking at each other.

Whenever you miss my warm hug, you may feel the sunny day. You can’t reach or even see the sun. But you can feel the warm. That is the way we are now. Yes, we are away. But we can still feel our warm hug and love.

PS : I love you
28.01.11

Posted by Krisdian in 17:35:31 | Permalink | Comments Off